Miftahussurur, Peneliti Helicobacter Pylori Kelas Dunia dari Unair

- Advertisement -spot_imgspot_img

ThePhrase.id – Salah satu akademisi Universitas Airlangga (Unair) bernama Muhammad Miftahussurur baru-baru ini ditempatkan sebagai top 0,1% peneliti yang menulis tentang Helicobacter pylori oleh Expertscape World Expert.

Hebatnya, Miftah diketahui merupakan satu-satunya peneliti dari Indonesia yang menerima penghargaan tersebut.

“Saya kaget tapi Alhamdulillah masih katut. Walaupun ini tidak mencerminkan kesemua hal tentang pylori, tetapi saya merasa daftar itu cukup adil karena saya lihat di urutan 1, 2, dan 3 memang itulah ahli pylori dunia,” ujar Miftah kepada ThePhrase.id, Kamis (25/11).

Tweet Expertscape terkait dr Miftah. (Foto: dok. Unair)

Helicobacter pylori sebuah bakteri yang biasanya ditemukan di lambung. Apabila seseorang terserang bakteri ini akan menyebabkan infeksi. Lebih dari 50 persen dari populasi dunia memiliki bakteri ini pada saluran pencernaan bagian atas. Infeksi ini juga lebih umum terjadi pada orang di negara-negara berkembang, sedangkan di negara Barat mulai menurun.

Miftah telah meneliti Helicobacter pylori sejak tahun 2011. Sepuluh tahun meneliti bidang ini, ia telah menghasilkan 98 publikasi terindeks Scopus, 80 di antaranya membahas mengenai Helicobacter pylori ini. Maka dari itu, pantas jika ia dinobatkan sebagai ‘pakar dunia’ oleh Expertscape.

Tak hanya berkutat di dalam ruangan, Miftah juga telah berkeliling Indonesia untuk mengumpulkan sampel bakteri. Ia pernah mengumpulkan 1.000 orang untuk mendapatkan 100 bakteri.

Dari hasil penelitiannya, bakteri pylori ini memiliki angka yang tinggi pada beberapa etnik, tetapi tidak pada etnik lainnya. Suku yang terhitung tinggi bakteri pylorinya antara lain adalah Batak, Bugis, Papua, dan Timor. Sedangkan suku dominan seperti Jawa, Sunda, atau Melayu memiliki prevalens bakteri pylori yang rendah, di angka dua persen.

dr. Muhammad Miftahussurur. (Foto: news.unair.ac.id)

“Angka dua persen itu kan artinya dari 100 orang, hanya dua orang yang positif. Dibandingkan dengan Suku Batak yang mencapai 40 persen, atau Suku Bugis yang sekitar 38 persen,” ujarnya.

Penemuan ini kemudian menjadi fenomena yang menarik. Pasalnya, rata-rata tingkat prevalensi Helicobacter pylori di seluruh dunia adalah 40 hingga 60 persen. Terlebih lagi, Indonesia merupakan negara berkembang yang mana lebih umum terinfeksi bakteri ini.

“Ini menjadi pusat perhatian. Di situlah publikasi-publikasi kita bisa diterima. Di negara-negara maju seperti Jepang prevalensinya mencapai 40 – 60 persen. Sedangkan negara-negara Afrika di angka 60 – 70 persen. Nah, kita ini hanya dua persen, makanya menarik,” ungkapnya.

Muhammad Miftahussurur, Wakil Rektor Bidang Internasionalisasi, Digitalisasi, dan Informasi Universitas Airlangga. (Foto: dok. Unair)

Sebelum mendapat mengakuan sebagai top 0,1 persen peneliti Helicobacter pylori, hasil penelitiannya,  telah terlebih dahulu menangkap perhatian di level internasional. Ia kerap diminta untuk memaparkan hasil kajiannya di Taiwan dan Korea Selatan.

Kendati demikian, dulu ia sempat berpikir bahwa perspektif penelitian Helicobacter pylori sangat rendah. Pemikiran tersebut ia tebas dengan pencapaian-pencapaiannya hingga penobatan ini. Dengan ini, dirinya berharap juga dapat memacu para peneliti Indonesia, bahwa molecular epidemiologi masih menjadi penelitian yang cukup prospektif untuk dijalani.

Selain sebagai akademisi, dokter, dan peneliti, Miftah juga menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Internasionalisasi, Digitalisasi, dan Informasi Unair yang menjabat untuk periode 2020-2025. Pengabdiannya di Unair merupakan hal yang natural karena ia juga merupakan lulusan Unair pada Fakultas Kedokteran mulai dari sarjana hingga spesialis. Ia kemudian melanjutkan studi S3-nya di Oita University, Jepang. [rk]

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you