Nur Agis Aulia, Tukang Kambing Jadi Dewan

- Advertisement -spot_img

Thephrase.id – Nur Agis Aulia adalah seorang sarjana yang memilih profesi sebagai peternak dan petani di kampung halamannya, Banten. Memulai usaha ternaknya di tahun 2013, ia tidak langsung sukses begitu saja. Berbagai kesulitan ia hadapi saat merintis usahanya. Mulai dari ditipu orang, hingga hewan ternaknya mati, Agis telah melewati itu semua. Namun, ia yakin bahwa kegagalan akan membawanya pada kesuksesan.

Pada podcast Break Out Kabar Banten TV dengan Agis sebagai narasumber, ia ditanya apa yang memotivasinya untuk kembali ke Banten dan menjadi peternak. Ia menjawab bahwa selama manusia membutuhkan makan, maka peternak dan petani juga dibutuhkan. Agis juga melihat potensi, peluang, dan pasar dari beternak. Lebih spesifik, ia memilih untuk menernak kambing pada awalnya, karena ada potensi bisnis terkait kurban dan aqiqah yang rata-rata membutuhkan kambing banyak.

Nur Agis Aulia, pemilik Jawara Farm. (Foto: Instagram/nuragis.aulia)

Di tahun awal menjadi peternak, pria kelahiran tahun 1989 ini dihadapkan pada permasalahan-permasalahan yang dialami oleh para peternak dan petani pada umumnya yakni lamanya waktu panen. Ia kemudian menyadari mengapa banyak kaum petani dan peternak miskin. Hal tersebut karena lamanya waktu panen, sedangkan kebutuhan sehari-hari tetap berjalan, jadi banyak dari mereka yang berutang kepada tengkulak atau pengepul. Belum lagi jika panen mereka gagal.

Maka dari itu, ia membuat model bisnis yang menghasilkan setiap minggu, bulan, dan tahun. Dari situ muncullah ide kambing perah, karena susunya dapat diperah setiap hari. Ia kemudian dapat beternak yang menghasilkan tanpa menunggu waktu panen yakni dalam waktu harian ia menjual susu perah, mingguan menjual daging untuk aqiqah, bulanan menjual daging untuk katering, 3-4 bulanan panen tanaman, 6 bulanan panen ternak, hingga tahunan dari kurban.

Menurut pria lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik itu, selama petani masih menerapkan pola momentum atau menunggu waktu panen, selama itulah mereka akan susah untuk sejahtera.

Nur Agis Aulia, pemilik usaha Jawara Farm. (Foto: Instagram/nuragis.aulia)

Usaha yang digelutinya itu diberi nama Jawara Farm. Berawal dari Banten, nama asli dari usahanya adalah Jawara Banten Farm. Namun, kini telah menjadi Jawara Farm saja karena telah merambah ke berbagai kota di Indonesia.

Melalui Jawara Farm, ia ingin berkontribusi untuk mengurangi kemiskinan, khususnya di perdesaan. Ia pun memberdayakan 100 lebih petani. Namun, sebagai seorang peternak yang meski telah sukses, ia hanya dapat membantu sebagian kecil masyarakat untuk mengurangi kemiskinan. Berangkat dari situ, ia mencoba untuk mencalonkan diri sebagai DPRD.

Menjadi Anggota Dewan

Berbekal aspirasi-aspirasi yang ia kumpulkan dari para peternak dan petani, ia memberanikan diri mencalonkan diri sebagai anggota dewan. Pada tahun 2019, ia berhasil menduduki kursi DPRD Kota Serang dan duduk di Komisi II yang mengurusi antara lain bidang pertanian, peternakan, perindustrian, perdagangan, perkebunan dan kehutanan.

Nur Agis Aulia, anggota DPRD Kota Serang. (Foto: Instagram/dewanmudaserang)

Pada laman Instagram dewanmudaserang miliknya, ia mengunggah foto dirinya di kantor DPRD Kota Serang dengan memberi caption ‘TUKANG KAMBING JADI DEWAN’ ia juga menuliskan ‘Nothing is impossible, selama terus menerus never give up’.

Agis mengatakan saat menjadi peternak banyak hal yang dapat dioptimalkan agar lebih menyejahterakan para peternak dan petani. Maka dari itu  ia mencoba masuk ke sistem dan ingin memberikan kontribusi pada masyarakat. Menurutnya, saat peternak memiliki kesulitan dalam pemasaran, modal, fasilitas pelatihan, pihak berwenanglah yang dapat memberikan solusi.

“Karena posisi saya saat itu hanya petani dan peternak, saya hanya bisa memberi aspirasi. Saat kita memberi aspirasi itu masuk telinga kanan keluar telinga kiri, atau paling hebat diberi PHP. Makanya kemudian, kita harus masuk ke dalam sistem tersebut, agar dapat merencanakan, menganggarkan, menjadi pelaku, jadi bukan hanya memberi aspirasi,” ujar Agis pada podcast Break Out Kabar Banten TV.

Nur Agis Aulia pada acara Pelatihan Budidaya Jamur Tiram di Banten. (Foto: Instagram/dewanmudaserang)

Sejak menjadi anggota dewan, Agis dapat memberikan kontribusi lebih. Jika sebelumnya ia hanya dapat memberdayakan para peternak dan petani, kini ia dapat melakukan advokasi seperti bantuan modal kepada 2000-2500 nelayan, pengadaan beras kepada lebih dari 200 petani, hingga bantuan sosial sebanyak hampir 50.000.

Meski telah menjabat sebagai anggota dewan, Agis juga masih aktif di Jawara Farm, bahkan ia juga melakukan bisnis lain bersama rekan-rekannya seperti membuka kelas Agro untuk para Agropreneur, Bank Sampah Digital untuk mengolah sampah menjadi bahan baku, hingga Lumbung Pangan Digital yakni kegiatan yang berfokus pada isu ketahanan pangan dan gizi kesehatan masyarakat untuk mencegah stunting.

“Anak muda jangan apatis. Jika ingin memperkuat meningkatkan kemanfaatan, masuklah ke sistem, jadi anggota dewan,” tandas Agis. [rk]

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you