
ThePhrase.id - Drama romantis sering kali bergantung pada formula yang sudah akrab, seperti kesalahpahaman atau cinta segitiga. Namun, drama Korea original Netflix terbaru, Can This Love Be Translated? justru memilih jalur yang lebih tenang dan reflektif.
Ditulis oleh Hong Sisters dan dibintangi Kim Seon-ho bersama Go Youn-jung, drama ini memandang cinta layaknya bahasa, penuh nuansa dan tidak selalu mudah diterjemahkan. Hubungan antara seorang penerjemah dan selebriti yang tengah berada di puncak popularitas menjadi medium untuk mengeksplorasi koneksi emosional yang melampaui kata-kata.
Chemistry kedua pemeran utama terasa alami sejak awal. Kim Seon-ho tampil solid sebagai Ho-jin, sosok pendiam yang lebih banyak mendengar, sementara Go Youn-jung menghadirkan Mu-hee sebagai figur publik dengan konflik batin yang tersembunyi di balik citra sempurna. Hubungan mereka berkembang perlahan melalui pendekatan slow burn yang mengandalkan gestur kecil dan momen hening sebagai penggerak emosi.
Salah satu elemen paling menarik adalah visualisasi trauma Mu-hee melalui sosok Do Ra-mi, karakter zombie yang membesarkan namanya. Kehadiran alter ego ini merefleksikan sisi gelap dan konflik batin yang terus menghantui Mu-hee, sekaligus menambah kedalaman psikologis pada cerita yang awalnya terasa ringan.

Dari sisi visual, Can This Love Be Translated? tampil menawan. Latar berbagai lokasi internasional dipadukan dengan palet warna hangat dan penyuntingan yang lembut. Visual berfungsi sebagai pendukung cerita, mempertegas tema tentang jarak, kedekatan, dan upaya saling memahami.
Meski demikian, drama ini tidak sepenuhnya lepas dari kekurangan. Upaya memadukan romansa, komedi, dan elemen petualangan terkadang membuat alurnya terasa melambat. Namun bagi penonton yang menyukai drama berbasis karakter, ritme inilah yang justru menjadi kekuatan utamanya.
Di balik kesan rom-com ringan dari trailer, drama ini menyimpan cerita yang lebih kompleks dan emosional. Pada akhirnya, Can This Love Be Translated? menawarkan refleksi tentang cinta yang tidak hadir dalam momen spektakuler, melainkan melalui keheningan, perhatian kecil, dan keinginan untuk saling memahami. [nadira]