Rizal Fahreza, Pilih Buka Agrowisata Edukatif Ketimbang Kerja Kantoran

- Advertisement -spot_img

ThePhrase.id – Rizal Fahreza adalah salah satu lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang tak tertarik bekerja kantoran seperti pemuda lainnya. Untuk itu, ia mendirikan usaha kebun edukasi dan agrowisata bernama Eptilu.

Eptilu berlokasi di Kampung Leuwiereng, Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut. Tujuan utama yang sekaligus menjadi ‘maskot’ dari destinasi wisata edukasi ini adalah jeruk. Pengunjung dapat memetik jeruk yang sudah matang dan berswafoto.

Ia juga memiliki misi ‘Mencetak Milenial Oranye’ untuk mengembalikan kejayaan jeruk garut dan menuju ekspor jeruk garut di tahun 2023. Jeruk yang ia jadikan fokus adalah jeruk khas Kabupaten Garut yang mana perawatannya tergolong lebih sulit.

Rizal Fahreza. (Foto: haipb.ipb.ac.id)

“Merawat jenis ini tidak mudah karena ancaman hama yang rentan mematikan jeruk, meskipun bisa diatasi dengan teknologi. Bertanam jeruk, seperti merawat bayi, harus dari hati dan dilihat setiap saat di setiap hari,” ujarnya dilansir dari laman Hai IPB.

Terlebih lagi, jenis jeruk yang dipilih oleh Rizal adalah salah satu komoditas andalan Kabupaten Garut yang keberadaannya hampir punah akibat serangan hama dan penyakit CVPD. Sehingga, usahanya tersebut merupakan sebuah bentuk pelestarian plasma nutfah jeruk garut yang didukung pemerintah daerah setempat.

Usaha yang ia rintis di tahun 2017 tersebut bergerak dari hulu ke hilir. Bukan hanya sebagai wisata edukasi, kini Eptilu juga merambah ke dunia katering, koperasi, hingga hotel. Rizal juga telah melakukan pengiriman produk jeruk setiap harinya untuk daerah Jakarta dan Bogor.

Rizal pertama kali memulai usahanya pada lahan seluas 2,2 hektare yang ia peroleh dengan sistem bagi hasil, melalui sewa lahan dan juga lahannya sendiri. Bahkan, Rizal juga memberdayakan masyarakat sekitar dengan menggandeng 17 petani hortikultura dari enam kecamatan di Kabupaten Garut.

“Kami bina petani untuk sama-sama tumbuh dan berkembang dalam menjalankan usahanya,” ungkap Rizal.

Pola penanaman yang ia terapkan juga yang sesuai prosedur penanaman yang direkomendasikan. Mulai dari pemilihan benih yang baik, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit yang selektif, penentuan panen yang benar, dan penanganan pasca panen yang baik.

Dengan begitu, usahanya berjalan dengan lancar dan memiliki omzet yang tinggi. Pada pertengahan tahun 2020, per bulannya ia mendapatkan Rp 8 – 15 juta dari sektor produksi buah dan sayuran, dan Rp 25-35 juta per bulan dari sektor distribusi dan penjualan sayur dan buah.

Menurutnya, wirausaha merupakan salah satu jalan untuk memperoleh income yang lebih cepat dibandingkan bekerja kantoran. Tetapi, tentunya sebuah usaha harus diawali dengan niat yang benar, kerja keras, pantang menyerah, serta visi misi dan nilai yang jelas dan terarah.

Berkat usahanya, Rizal juga dianugerahi berbagai penghargaan dari kampus almamaternya maupun instansi lain. Dari IPB, ia meraih juara pertama Wirausaha Muda Berprestasi Tingkat Nasional (2016) berkat mengembangkan pertanian di kampung halaman (Garut) dan memberikan pembinaan pada mitra petani.

Di luar itu, ia juga terpilih sebagai Duta Petani Muda Asean (2018) pada ajang “The Asean Young Success Farmer” di Filipina, menjadi utusan Indonesia pada ajang “The 2nd Youth Leadership Program in Agriculture for Belt and Road (South-South Coorporation)” di Beijing, China, hingga menjadi Duta Milenial Pembangunan Pertanian dari Kementerian Pertanian (2019). [rk]

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you