
ThePhrase.id – Universitas Indonesia (UI) menyatakan kesiapan dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pengembangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tengah didorong Badan Gizi Nasional (BGN).
Sesuai dengan arahan pemerintah yang mendorong perguruan tinggi untuk berkontribusi terhadap program MBG, Rektor UI, Heri Hermansyah, menegaskan bahwa UI menyambut peran tersebut dengan kesungguhan dan tetap peka terhadap dinamika yang berkembang di masyarakat.
Dalam keterangan yang diunggah di laman resmi UI pada Rabu (6/5), UI mengatakan program MBG merupakan langkah strategis dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia ke depan, terutama menuju Indonesia Emas 2045.
Maka dari itu, UI memberikan dukungan dan menyatakan tengah mempersiapkan kontribusi melalui kekuatan akademik dan kajian. Perannya juga tak terlepas dari posisinya sebagai sebuah perguruan tinggi.
"Sebagai universitas riset, peran utama UI adalah memperkuat program MBG melalui pendidikan tenaga ahli gizi dan kesehatan, riset inovasi pangan dan gizi, kajian kebijakan, sosialisasi berbasis bukti, serta monitoring dan evaluasi berbasis metode ilmiah," ujarnya, dikutip dari keterangan resmi UI.
Saat ini, UI memiliki sejumlah program studi yang disebut relevan dengan agenda penguatan gizi nasional, yakni Program Studi Gizi dan Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Teknologi Bioproses, serta Pendidikan Dokter dan Ilmu Keperawatan.
Soal pengelolaan SPPG, UI mengatakan pihaknya tengah melakukan kajian komprehensif dalam merumuskan pelaksanaan paling tepat yang sejalan dengan tata kelola universitas.
"Pelaksanaannya harus akuntabel, profesional, dan selaras dengan fungsi utama universitas sebagai pusat pendidikan dan riset," jelas Heri Hermansyah.
Pernyataan UI ini merupakan tanggapan dari dorongan yang sebelumnya disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, pada akhir April 2026. Dalam forum U25 Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) yang digelar di Makassar, Dadan meminta kampus ikut membangun dan mengelola SPPG guna mendukung keberhasilan program MBG.
"Saya kira kampus perlu memahami ini, karena ini peluang besar. Minimal punya satu SPPG dulu, dan kalau bisa pasokannya berasal dari civitas akademika sendiri," tutur Dadan, dikutip dari laman resmi BGN.
Dadan menilai keberadaan SPPG di lingkungan kampus tidak hanya berfungsi sebagai dapur penyedia makanan bergizi, tetapi juga dapat menjadi pusat pembelajaran, riset, dan penggerak ekonomi. Ia menyebut kampus memiliki peluang besar untuk membangun ekosistem pangan terintegrasi yang melibatkan civitas akademika hingga sektor pertanian dan peternakan. [rk]