
ThePhrase.id – Kemacetan lalu lintas menjadi tantangan yang hampir tak terpisahkan dari aktivitas berkendara di kota besar. Bagi pengemudi mobil, kondisi stop-and-go saat terjebak macet bukan hanya melelahkan, tetapi juga memberikan dampak negatif pada performa kendaraan.
Saat mobil lebih sering berhenti, berjalan perlahan, lalu kembali melaju dalam waktu singkat, mesin dipaksa bekerja dalam kondisi yang kurang optimal. Jika terjadi terus-menerus, hal ini berpotensi memengaruhi sejumlah komponen penting pada mesin.
Dilansir dari laman resmi Suzuki, ketika mobil lebih sering diam daripada bergerak di tengah kepadatan, sistem pada mobil akan bekerja ekstra yang dapat menimbulkan masalah seperti overheat. Di kemacetan, pergerakan mobil yang terbatas dan minimnya udara segar yang masuk untuk mendinginkan radiator membuat suhu mesin terus merangkak naik.
Selanjutnya, panas berlebih akibat macet ini tak hanya membuat mobil menjadi overheat, tetapi juga menyebabkan oli mesin mengalami oksidasi lebih cepat. Oli yang teroksidasi dapat mengental dan kehilangan kemampuannya untuk melumasi komponen mesin.
Tanpa disadari, pola mengemudi stop-and-go di kemacetan membuat mobil bertransmisi otomatis berisiko mengalami kerusakan komponen transmisi seperti kopling dan planetary gear. Pasalnya, saat macet, transmisi akan terus-menerus berpindah gigi.
Salah satu dampak yang sangat terasa dari seringnya terjebak dalam kemacetan adalah konsumsi bahan bakar yang boros. Dalam kondisi diam, mesin tetap membakar bahan bakar untuk menjaga sistem tetap hidup. Terlebih lagi, akselerasi pendek yang dilanjutkan dengan pengereman berulang makin membuang energi. Oleh karena itu, kemacetan lalu lintas yang berulang berpotensi menurunkan efisiensi bahan bakar.

Selain itu, mesin yang sering bekerja pada suhu tinggi dengan pelumasan tidak optimal juga rentan mengalami keausan lebih cepat. Komponen seperti ring piston, dinding silinder, dan bearing pun bisa mengalami kelelahan (fatigue).
Komponen pendukung seperti sistem pendinginan yang terdiri dari radiator, kipas, dan thermostat juga bekerja lebih keras. Sistem AC pun bekerja lebih berat karena kompresor terus menyala demi mendinginkan kabin, sehingga memberikan beban tambahan bagi mesin dan menyumbang kenaikan suhu.
Lantas, bagaimana cara menghindari kerusakan pada berbagai komponen mesin apabila aktivitas sehari-hari memaksa untuk terus berkendara di kemacetan?
Dengan beberapa langkah sederhana, risiko kerusakan akibat seringnya terjebak macet dapat diminimalisir. Pertama, periksa cairan pendingin atau coolant secara rutin sebagai cara untuk mencegah overheat mesin. Pastikan coolant selalu berada pada level di antara batas minimum dan maksimum.
Kedua, matikan AC jika suhu mesin mulai terasa panas. Langkah ini merupakan tips darurat yang diklaim efektif karena sistem AC memberikan beban berlebih pada mesin. Dengan mematikannya, beban mesin dapat berkurang dan membantu menurunkan suhu.
Terakhir, gunakan posisi transmisi Netral (N) saat berhenti lama. Hindari meninggalkan transmisi pada posisi Drive (D) apabila mobil berhenti lebih dari satu menit di kemacetan karena dapat menciptakan beban dan panas pada komponen transmisi. [rk]