Serupa Tapi Tak Sama, Apa Beda Demensia dan Alzheimer?

- Advertisement -spot_imgspot_img

ThePhrase.id – Seiring berjalannya usia, seseorang akan mengalami penurunan daya ingat akibat penuaan maupun gangguan kesehatan tubuh. Demensia dan Alzheimer merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan penurunan daya ingat hingga pikun.

Terkesan sama, kedua penyakit ini memiliki berbagai perbedaan berikut ini dilansir dari berbagai sumber.

Demensia sendiri sebenarnya bukan penyakit melainkan sekelompok gejala yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengingat, berpikir dan bersosialisasi. Oleh karena itu, demensia disebut melingkupi berbagai penyakit seperti Alzheimer. Akibatnya, seorang penderita demensia akan mengalami penurunan kemampuan dalam beraktivitas sehari-hari.

Perbedaan Demensia dan Alzheimer (Foto: agespace.org)

Sementara Alzheimer yang merupakan salah satu jenis dari demensia adalah penyakit progresif yang secara perlahan dapat menyebabkan seseorang bermasalah dengan ingatan, perilaku dan kemampuan berpikir. Penyakit ini akan mulai menunjukkan gejala atau demensia ketika berada di usia 60-an tahun.

Penyebab

Karena merupakan gejala dari berbagai penyakit, demensia memiliki penyebab yang bervariasi dan memiliki berbagai jenis. Seperti demensia vaskular yang terjadi akibat kurangnya aliran darah di otak, lewy body dementia merupakan gangguan otak akibat penumpukan protein dan demensia frontotemporal merupakan kelainan otak yang memengaruhi lobus frontal dan temporal otak.

Demensia ini lebih mungkin diderita oleh orang dalam rentang usia 45-65 tahun yang juga dipengaruhi oleh penurunan gen tertentu.

Alzheimer (Foto: urgentteam.com)

Sementara penyebab penyakit Alzheimer merupakan endapan yang disebut plak amiloid di otak yang disebabkan kerusakan dan penggumpalan protein yang menyebabkan kekusutan otak. Umumnya, area yang terpengaruh akibat alzheimer adalah bagian hipokampus yang bertugas mengatur memori.

Gejala

Gejala yang dialami penderita demensia secara umu yaitu halusinasi serta perubahan suasana hati yang tiba-tiba. Namun gejala spesifik Demensia dapat dilihat pada bagian otak yang diserang berikut ini.

  • Penderita Demensia Vaskular akan kesulitan berkonsentrasi, kebingungan memutuskan sesuatu, sulit mengomunikasikan rencana, mudah gelisah dan sensitif, acuh, depresif hingga mudah lupa dan kesulitan mengontrol keinginan buang air kecil.
  • Penderita Demensia Lewy Body memiliki gerakan tubuh melambat, otot kaku, tremor dan mudah terjatuh. Ia juga rentan mengalami pusing dan sembelit, sulit konsentrasi, hilang ingatan, tidak teratur berbicara, halusinasi, kesulitan tidur malam namun tidur sangat lama di siang hari hingga depresi.
  • Penderita Demensia Frontotemporal akan merasakan kejang otot, kesulitan menelan, keseimbangan yang buruk, kesulitan memahami bahasa dan menyusun kata, kurang perhatian, melakukan gerakan berulang tidak normal dan memasukkan sesuatu yang bukan makanan ke dalam mulut.

Sementara untuk Alzheimer memiliki perbedaan dari gejala demensia yaitu mengalami hilang ingatan akan orang, benda dan lokasi. Penderita Alzheimer juga sering berbicara berulang, depresi, menarik diri dari kegiatan sosial, buruk dalam mengambil keputusan hingga kesusahan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Pengobatan yang Dijalani

Demensia (Foto: thecorporatereview.com)

Pengobatan yang direkomendasikan bagi penyakit Alzheimer dan Demensia juga berbeda. Obat yang sering diresepkan oleh dokter untuk penderita Alzheimer merupakan obat penghambat cholinesterase sepeti donepezil (Aricept), galantamine (Razadyne) dan rivastigmine (Exelon) serta obat memantine.

Sementara untuk obat penyakit Demensia Lewy Body menggunakan obat penghambat cholinesterase dan beberapa obat untuk mengobati penyakit Parkinson. Sementara demensia vaskular biasa diobati dengan obat penurun tekanan darah, kolestrol serta pencegah pembekuan darah.

Untuk pasien Demensia Frontotemporal akan diresepkan obat antidepresan dan antipsikotik.  Untuk pasien Dementia dan penyakit Alzheimer meski memiliki obat yang berbeda keduanya meski menjalani terapi untuk membantu mengurangi gejala. [fa]

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you