lifestyleRelationship

Silent Treatment: Ketika Diam Jadi Bentuk Manipulasi Emosional dalam Hubungan

Penulis Rahma K
Mar 15, 2026
Ilustrasi pasangan yang bertengkar dan memberikan silent treatment. (Foto: Freepik/Drazen Zigic)
Ilustrasi pasangan yang bertengkar dan memberikan silent treatment. (Foto: Freepik/Drazen Zigic)

ThePhrase.id – Banyak orang yang mengira cara paling aman menghindari pertengkaran dalam hubungan adalah dengan menutup mulut. Padahal, dalam banyak kasus, diam itu bukan emas, tetapi malah bisa jadi racun. Di dunia psikologi, aksi bungkam ini punya istilah populer, yakni silent treatment.

Mungkin niatnya ingin protes secara “damai”, tapi dari kacamata psikologis, mendiamkan orang lain justru jadi cara paling tajam untuk menolak keberadaan mereka. Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah, mengapa kita lebih suka membungkam suara daripada bicara jujur? 

Apa itu silent treatment?

Sederhananya, silent treatment adalah kondisi saat seseorang sengaja mengabaikan orang lain sebagai respons dari konflik, rasa marah, atau kecewa. Bentuk dari silent treatment beragam, mulai dari tidak membalas chat, menolak bicara tatap muka, hingga bersikap seolah-olah orang di depannya tidak ada.

Dilansir dari Healthline, fenomena ini tak hanya terjadi di hubungan asmara, tapi juga bisa muncul di hubungan keluarga, pertemanan, bahkan lingkungan kerja. Memang, ada kalanya kita diam karena merasa kewalahan dan belum siap berdiskusi. Namun, apabila dilakukan dengan sengaja maka ini merupakan bentuk dari manipulasi emosional.

Contoh nyata dari silent treatment adalah seperti tiba-tiba berhenti bicara setelah bertengkar, menghilang berhari-hari tanpa kabar, hingga tetap asyik mengobrol dengan orang lain tapi mengacuhkan satu orang tertentu. Walaupun terlihat seperti cara menghindari drama, perlakuan seperti ini pada dasarnya merupakan “pesan” kemarahan dan penolakan tanpa kata.

Alasan seseorang melakukan silent treatment

Secara umum, silent treatment adalah sebuah respons dari sebuah konflik dan sekaligus perasaan yang terluka akibat konflik tersebut. Namun, setiap orang melakukan hal ini karena alasan yang berbeda. Ada yang melakukannya karena minimnya kemampuan berkomunikasi yang sehat, serta tidak mengerti cara mengekspresikan emosi dengan baik.

Silent Treatment  Ketika Diam Jadi Bentuk Manipulasi Emosional dalam Hubungan
Ilustrasi pasangan yang bertengkar dan memberikan silent treatment. (Foto: Freepik)

Beberapa orang lainnya melakukan silent treatment dengan sengaja sebagai bentuk “hukuman” terhadap orang yang berkonflik dengan mereka agar orang tersebut menyadari kesalahan mereka. Tujuannya adalah memberikan efek jera dan agar kata maaf terlontar di dalam percakapan.

Dampak bagi korban

Di sisi lain, ternyata dampak bagi orang yang mendapatkan perilaku silent treatment cukup berbahaya. Keheningan tanpa kejelasan yang terus berlanjut dapat memberikan dampak emosional yang cukup besar mulai dari rasa bingung hingga kecemasan.

Dikutip dari hellosehat, silent treatment dapat menyebabkan munculnya perasaan dikucilkan, menurunkan self-esteem atau menimbulkan perasaan harga diri yang rendah, merusak kepercayaan, memunculkan perasaan kebencian, hingga membuat hubungan menjadi renggang.

Tak hanya sekadar dampak emosional, pada kasus yang lebih parah, silent treatment berpotensi untuk memengaruhi fisik seseorang, seperti perubahan berat badan, gangguan tidur, peradangan hingga peningkatan tekanan darah.

Bagaimana cara menghadapinya?

Menghadapi orang yang tengah merasakan amarah dan tersakiti memang membutuhkan kesabaran ekstra. Demi hubungan yang dapat kembali berjalan dengan tenang, turunkanlah ego dan hadapi orang tersebut untuk mengomunikasikan konflik dengan baik.

Pertama-tama, katakanlah bahwa kamu sadar bahwa mereka sedang diam dan ingin memperbaiki keadaan serta memahami apa yang sebenarnya terjadi. Katakan juga bahwa kamu dapat memberikan mereka waktu dan ruang untuk berdamai dengan diri sendiri. 

Kendati demikian, kamu juga harus menetapkan batasan sampai titik mana berdiam diri dapat dilakukan. Setelah itu, tekankan bahwa konflik ini harus dibicarakan dengan baik-baik dan mengeluarkan perasaan masing-masing, dengan tujuan mencapai kesepakatan bersama yang dapat dimengerti kedua belah pihak. [rk]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic