lifestyleHealth

Smiling Depression: Ketika Depresi Bersembunyi di Balik Senyuman

Penulis Rahma K
Nov 01, 2026
Ilustrasi. (Foto: Pexels/Sky Miller)
Ilustrasi. (Foto: Pexels/Sky Miller)

ThePhrase.id – Depresi tidak selalu terlihat dari raut wajah yang murung atau perilaku yang menarik diri dari lingkungan sosial. Sebagian penderitanya bisa tetap tersenyum, beraktivitas normal, dan terlihat baik-baik saja dari luar, meski mereka aslinya merasa sedih hingga putus asa.

Melansir BBC, kondisi yang disebut sebagai smiling depression ini dilaporkan mengalami peningkatan hingga 50 persen dalam lima tahun terakhir. Semakin banyak orang di dunia disebut mengalami depresi, tetapi tidak semuanya menunjukkan gejala yang kasat mata.

Umumnya, orang yang mengalami depresi akan merasa sedih terus-menerus, putus asa, berpikiran negatif, merasa tidak berharga, dan sulit berkonsentrasi. Pada kondisi yang cukup serius, penderitanya bahkan tidak memiliki keinginan untuk bangun dari tempat tidur.

Penderita smiling depression cukup berbeda. Meski terdapat beberapa gejala serupa, seperti perasaan putus asa, kelelahan, dan hilang minat untuk melakukan berbagai hal, mereka tetap dapat menyembunyikannya di muka umum.

Bahkan, penderitanya justru cenderung aktif, terlihat optimis, ceria,  dapat tidur nyenyak, dan memiliki kehidupan sosial yang terlihat normal. Namun, hal ini bukanlah sinyal yang positif. 

Dilansir dari laman halodoc, pengidap smiling depression justru memiliki risiko bunuh diri yang lebih tinggi. Pasalnya, banyak orang yang depresi memiliki keinginan untuk bunuh diri, tetapi mereka tak punya banyak energi untuk melakukannya. Sebaliknya, pengidap smiling depression justru mungkin melakukannya karena lebih memiliki tenaga dan motivasi.

Kendati demikian, terdapat dua jenis orang yang mengidap smiling depression: yang menyadarinya dan yang tidak. Mereka yang menyadarinya adalah orang-orang yang perfeksionis dan hidup secara terorganisir, karena mereka melakukan masking atau menyembunyikan emosi tertentu agar terlihat normal dan menyatu dengan lingkungan.

Tetapi, ada juga orang-orang yang tidak menyadari mereka tengah mengalami smiling depression. Peneliti kesehatan mental dari Universitas Cambridge, Inggris, Olivia Remes, mengatakan orang-orang yang tidak menyadarinya mengira gejala yang dialami merupakan dampak dari hidup yang penuh tekanan.

Mengutip laman Rumah Sakit Siloam, smiling depression dikatakan bukan sebuah diagnosis medis. Namun, kondisi ini nyata dialami oleh banyak orang di dunia. Penyebabnya pun beragam, yakni adanya perubahan besar dalam hidup seperti kehilangan pekerjaan, perceraian, kehilangan pasangan atau anggota keluarga, hingga kecelakaan.

Selain itu, tuntutan atau stigma sosial juga berperan dalam menimbulkan depresi. Begitu juga ketergantungan pada media sosial yang menuntut serba sempurna, hingga ekspektasi yang tidak realistis yang dibebankan oleh lingkungan sekitar.

Untuk mengatasi smiling depression, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan seperti pengobatan medis, terapi psikologis, mengubah pola hidup lebih sehat dengan rajin berolahraga, mengelola stres, meditasi, tidur yang cukup, dan menjalin komunikasi yang baik dengan orang sekitar. [rk]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic