leader

Sosok Chaerul Saleh dan Perannya dalam Peristiwa Rengasdengklok yang Mengantarkan Kemerdekaan Indonesia

Penulis Rahma K
Aug 17, 2023
Sosok Chaerul Saleh dan Perannya dalam Peristiwa Rengasdengklok yang Mengantarkan Kemerdekaan Indonesia

ThePhrase.id – Terdapat sejumlah tokoh yang berperan penting dalam keberhasilan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Chaerul Saleh adalah salah satu tokoh muda yang perannya signifikan dalam momen penting bagi Tanah Air ini.

Masyrakat Indonesia pasti tak asing dengan peristiwa Rengasdengklok. Peristiwa penculikan Soekarno dan Moh. Hatta oleh sejumlah pemuda dengan tujuan mendesak kedua tokoh besar tersebut untuk mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Chaerul Saleh adalah salah satu dari pemuda-pemuda tersebut, termasuk yang lainnya adalah Soekarni, Wikana, dan juga Aidit. Chaerul dan kawan-kawan menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Sebagai informasi, kala itu, Soekarno dan Moh. Hatta, serta tokoh-tokoh tua lain menginginkan agar proklamasi dilakukan melalui PPKI. Golongan muda menganggap PPKI adalah badan buatan Jepang, maka pihak muda tidak menginginkan hal tersebut. 

Golongan muda juga tidak menginginkan kedua tokoh besar tersebut terpengaruh oleh Jepang, serta khawatir apabila kemerdekaan Indonesia yang merupakan hasil perjuangan rakyat, seolah-olah menjadi pemberian dari Jepang.

Sebelum melangsungkan misi penculikan ke Rengasdengklok, para pemuda terlebih dahulu mengadakan rapat yang dipimpin oleh Chaerul, pada 15 Agustus 1945. Rapat tersebut dilakukan di sebuah ruangan Lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur, Jakarta. 

Sosok Chaerul Saleh dan Perannya dalam Peristiwa Rengasdengklok yang Mengantarkan Kemerdekaan Indonesia
Chaerul Saleh. (Foto: Wikimedia Commons)

Dari rapat tersebut, keluar beberapa keputusan, yakni mendesak Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan hari itu juga, menunjuk Wikana, Darwis Karimoeddin, dan Subadio untuk menemui Soekarno-Hatta dan menyampaikan keputusan rapat, dan membagi tugas kepada mahasiswa, pelajar, dan pemuda untuk merebut kekuasaan dari Jepang.

Karena Soekarno menolak untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, dan ingin melakukannya melalui PPKI, para golongan muda lantas menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok untuk menjauhkan keduanya dari pengaruh Jepang pada 16 Agustus 1945.

Hasil dari penculikan tersebut adalah Soekarno bersedia mengumumkan proklamasi kemerdekaan sekembalinya di Jakarta. Keesokan paginya, Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta, dan pukul 10.00 pagi, Seokarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Mengenal Chaerul Saleh lebih dalam

Lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat pada 13 September 1916, Chaerul Saleh adalah seorang anak tunggal dari dokter bernama Achmad Saleh dan Zubaidah binti Ahmad Marzuki.

Ia tumbuh besar di tanah Sumatera, berpindah-pindah dari Sawahlunto, ke Tanah Datar, ke Medan, hingga Bukittinggi. Setelah bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) di Bukittinggi, dan Hoogere Burgerschool (HBS) Bagian B di Medan, ia berpindah ke Batavia yang sekarang menjadi Jakarta.

Di Batavia, ia melanjutkan sekolah di Koning Willem III School te Batavia, dan melanjutkan pendidikan tingginya di Rechtshoogeschool te Batavia (RHS), sebuah perguruan tinggi hukum.

Sosok Chaerul Saleh dan Perannya dalam Peristiwa Rengasdengklok yang Mengantarkan Kemerdekaan Indonesia
Chaerul Saleh. (Foto: opac.perpusnas.go.id)

Selama menjadi mahasiswa, Chaerul adalah pemuda yang aktif berorganisasi dr. Chaerul turut aktif dalam menyuarakan keinginannya agar Indonesia merdeka dan melakukan berbagai hal sebagai implementasinya.

Setelah Indonesia merdeka, lebih tepatnya pada 1946, Chaerul bergabung dengan Persatuan Perjuangan pimpinan Tan Malaka yang menuntut kemerdekaan 100 persen dan berdiri sebagai pihak yang beroposisi dengan pemerintah. Beberapa tokoh dari kelompok ini kemudian ditangkap, Chaerul termasuk salah satunya.

Di tahun 1948, Chaerul ditunjuk oleh Tan Malaka sebagai sekretaris pergerakan Gerakan Rakyat Revolusioner. Setelah kematian Tan Malaka, ia berhimpun di Partai Murba. Di tahun 1950, ia memimpin Laskar Rakyat di Jawa Barat untuk menentang hasil Konferensi Meja Bundar.

Namun, ia ditangkap dan dibuang ke Jerman. Alih-alih jatuh, Chaerul justru melanjutkan studinya di Fakultas Hukum Universitas Bonn, dan mendirikan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI).

Sekembalinya ke Indonesia di tahun 1956, ia ditunjuk pemerintah untuk menjadi Wakil Ketua Umum Legiun Veteran RI. Pada tahun berikutnya, ia masuk dalam Kabinet Djuanda dan menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Veteran. Ia juga menjadi orang kepercayaan Presiden Soekarno.

Setelah itu, ia menjabat beberapa jabatan-jabatan besar seperti Menteri Muda Perindustrian Dasar dan Pertambangan pada Kabinet Kerja I (1959),  Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan pada Kabinet Kerja II dan III, hingga Wakil Perdana Menteri III (1963). [rk]

 
Related News

Popular News

 

News Topic