lifestyleFashion

Wardrobe Regret Setelah Lebaran: Kenapa Baju Baru Cuma Dipakai Sekali?

Penulis Rahma K
Mar 24, 2026
Ilustrasi wardrobe regret pasca Lebaran. (Foto: Freepik/yanalya)
Ilustrasi wardrobe regret pasca Lebaran. (Foto: Freepik/yanalya)

ThePhrase.id – Setelah momen Lebaran berlalu, salah satu hal yang kerap dirasakan oleh banyak orang adalah wardrobe regret. Istilah ini merujuk pada perasaan menyesal selepas membeli baju Lebaran yang setelahnya akan jarang dipakai atau bahkan tidak dipakai lagi.

Umumnya, wardrobe regret tak akan terasa ketika proses membeli baju itu sendiri, karena alasan euforia menjelang hari raya, hingga keinginan untuk berbelanja yang tinggi saat melihat berbagai koleksi busana Lebaran yang unik dan cantik.

Namun, setelah baju Lebaran hanya dikenakan satu hari, perasaan ini biasanya muncul saat baju kembali disimpan di lemari dan membuatnya terasa penuh. Perasaan tersebut kemudian dapat berkembang menjadi pikiran seperti, "kapan baju ini akan dipakai lagi ya?", yang kemudian memicu perasaan menyesal telah membeli baju yang hanya sekali pakai.

Meski penyesalan tersebut muncul, tak banyak orang yang bisa langsung menyisihkan baju tersebut dan mendonasikannya untuk orang lain karena perasaan "sayang " atas baju yang bahkan belum berumur beberapa bulan.

Untuk itu, menghindari wardrobe regret di tahun-tahun berikutnya adalah langkah yang tepat demi gaya hidup yang lebih sustainable dan juga ramah di kantong. Tetapi, bagaimana caranya?

Hal utama yang perlu diperhatikan untuk menghindari wardrobe regret adalah dengan membeli baju Lebaran yang nantinya dapat dipakai lagi. Beberapa acara yang bisa dipertimbangkan adalah menghadiri undangan pernikahan atau untuk sekadar hangout dengan teman dan pergi jalan-jalan ke luar kota.

Pertama, lebih selektif dalam memilih bahan ketika membeli baju Lebaran adalah salah satu hal yang perlu diperhatikan. Baju dengan material yang nyaman dan breathable seperti katun atau linen umumnya lebih mudah dipakai ulang di berbagai acara, dibanding bahan yang terlalu berat atau hanya cocok untuk acara formal.

Selain itu, penting juga mempertimbangkan model baju. Alih-alih memilih outfit yang terlalu "occasion-specific", coba pilih desain yang lebih versatile. Misalnya, tunik simpel yang bisa dipadukan dengan jeans untuk hangout, atau dress yang masih cocok dipakai ke acara kondangan. Dengan begitu, baju Lebaran yang dibeli bisa dipakai kembali dan tak hanya berujung mendekam di lemari.

Selektif dalam memilih warna juga bisa menjadi strategi. Warna-warna netral atau earth tone cenderung lebih mudah dipadu-padankan, sehingga peluang untuk dipakai ulang jauh lebih besar dibanding warna yang terlalu mencolok atau musiman.

Hal yang tak kalah penting untuk dipertimbangkan adalah memilih baju yang cocok dengan gaya personalmu. Jika menemukan baju Lebaran yang lucu, tetapi mungkin tidak terlalu sesuai dengan seleramu, pertimbangkan untuk tidak membelinya, karena nantinya akan lebih jarang disentuh untuk dipakai kembali.

Di luar itu semua, opsi yang lebih menarik dan sustainable adalah dengan tidak membeli baju baru sama sekali. Cobalah "berbelanja" dari lemari sendiri dan memadukan ulang berbagai item yang telah dimiliki. Mix and match atasan dan bawahan yang jarang dipadukan bersama akan terasa lebih menyenangkan, terlebih lagi ketika ditambah aksesori yang lucu untuk menambah kesan "baju baru".

Dengan menerapkan beberapa langkah tersebut saat membeli baju Lebaran, kamu dapat menghindari wardrobe regret di kemudian hari dan tak membuang uangmu dengan percuma. [rk]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic