lifestyle

Feed Kosong, Tetap Online: Mengenal Fenomena Zero Post yang Ramai di Kalangan Gen Z

Penulis Rahma K
May 09, 2026
Ilustrasi membuka media sosial. (Foto: Freepik)
Ilustrasi membuka media sosial. (Foto: Freepik)

ThePhrase.id – Di tengah budaya media sosial yang identik dengan unggahan estetik dan feed yang tertata rapi, muncul tren baru di kalangan generasi muda bernama zero post. Fenomena yang banyak dilakukan generasi Z atau Gen Z ini merujuk pada kebiasaan tidak mengunggah foto maupun konten apa pun di feed utama media sosial, meski tetap aktif sebagai pengguna.

Alih-alih tampil eksis di ruang publik digital dengan mengunggah keseharian, Gen Z kini lebih nyaman menjadi "silent user" yang menikmati media sosial secara lebih privat dan personal. Banyak dari mereka menggunakan media sosial hanya sebagai sarana hiburan dan konsumsi informasi.

Dengan demikian, mereka tetap akan menjadi pengguna yang aktif seperti melihat Story, memberikan like pada foto yang dilihat di feed, atau bahkan meninggalkan komentar. Namun, mereka tidak membagikan bagian dari kehidupan mereka melalui unggahan konten apa pun.

Fenomena ini bukan hanya dilakukan oleh satu atau dua orang dan tidak hanya terjadi di satu negara. Ketika memerhatikan akun media sosial Gen Z secara umum, zero post didapati sering terjadi, termasuk di Indonesia.

Istilah zero post sendiri dipopulerkan oleh Kyle Chayka, seorang jurnalis The New Yorker. Kyle menyebut fenomena ini sebagai gambaran perubahan besar dalam cara banyak orang menggunakan media sosial Berbagai platform media sosial yang dulunya dipenuhi oleh unggahan sederhana seperti foto sarapan, hewan peliharaan, hingga kegiatan harian lainnya, kini makin jarang ditemui.

Laporan terbaru The Financial Times mengungkap survei terhadap 250 ribu pengguna dari 50 negara menunjukkan adanya penurunan penggunaan media sosial hingga 10 persen. Menariknya, penurunan ini paling banyak terjadi di kalangan generasi muda yang selama ini dikenal sebagai mayoritas pengguna media sosial global.

Temuan ini kemudian dikaitkan dengan fenomena zero post yang makin merebak di kalangan anak muda, terutama Gen Z, serta memperkuat pandangan Kyle Chayka yang menyebut zero post sebagai tanda berakhirnya fungsi media sosial sebagai platform yang digunakan bagi siapapun untuk berbagi apapun.

Namun, mengapa fenomena ini bisa terjadi? Dilansir dari berbagai sumber, terdapat beberapa faktor yang mendorong munculnya fenomena zero post. Pertama, hal ini dikaitkan dengan kejenuhan yang dirasakan Gen Z terhadap kehidupan yang serba tampil estetik, rapi, dan menarik di media sosial.

Bagi sebagian banyak anak muda, hal tersebut menjadi tekanan sosial tersendiri karena menimbulkan persepsi seakan-akan konten yang diunggah di media sosial perlu selalu terlihat menarik dan akan dilihat untuk "dinilai" oleh pengguna lain. Untuk menghindari ini, mereka memilih untuk tidak mengunggah apapun sama sekali.

Kedua, media sosial yang kini telah menjadi sarana iklan dan konten promosi membuat generasi muda merasa jenuh dan lelah. Terlebih lagi, media sosial kini dipenuhi konten bot, AI, hingga video pendek dengan template serupa. Unggahan dari pengguna normal menjadi tenggelam, begitu juga dengan minat untuk membagikan kehidupan pribadi yang turut menghilang.

Terakhir, zero post juga dilakukan oleh generasi muda untuk melindungi privasi. Seperti yang diketahui, kini banyak perusahaan yang melihat profil calon karyawannya melalui media sosial. Para Gen Z mengaku khawatir apa yang mereka unggah dan katakan di media sosial dapat berdampak buruk terhadap masa depan mereka. Maka dari itu, zero post menjadi solusi jitu yang makin banyak diminati. [rk]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic