
ThePhrase.id – Di era digital ini, popularitas dapat diraih hanya dalam hitungan detik. Sebuah konten yang mendadak viral di media sosial mampu melambungkan nama seseorang menjadi influencer atau seleb dadakan. Namun, di balik itu, ada pula tantangan untuk menghindari perilaku star syndrome.
Star syndrome adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sikap seseorang yang merasa dirinya istimewa dan penting, selalu ingin menjadi pusat perhatian, serta mengharapkan perlakuan khusus dari orang lain karena merasa lebih tinggi.
Fenomena ini mudah dijumpai di industri hiburan dan media sosial. Popularitas yang meningkat dapat membuat seseorang terbiasa menerima pujian dan pengakuan. Perubahan dari kondisi tidak dikenal menjadi populer sering kali membuat mental seseorang kaget.
Jika tidak diimbangi dengan kesadaran diri, hal ini berpotensi membuat mereka merasa lebih penting daripada orang lain. Sehingga, dapat menimbulkan perilaku negatif seperti merendahkan dan meremehkan orang lain karena merasa lebih hebat, enggan menerima kritik, hingga tidak mau kalah.
Selain itu, dilansir dari RRI, seorang psikolog asal Madiun, Andi Cahyadi, mengatakan bahwa salah satu bahaya dari star syndrome adalah munculnya ketergantungan terhadap validasi eksternal. Hal ini disebut berbahaya karena dapat membuat seseorang kehilangan percaya diri saat perhatian untuk dirinya berkurang, atau ketika melihat orang lain lebih tenar darinya.
Meski sering dikaitkan dengan dunia hiburan, star syndrome tidak terbatas pada selebriti atau figur publik. Seseorang yang tidak pernah muncul di televisi atau memiliki jutaan pengikut di media sosial juga bisa menunjukkan sikap serupa di lingkungan sehari-hari.
Dikutip dari jurnal berjudul "Pengenalan dan Psikoedukasi Fenomena Star Syndrome pada kalangan Remaja Akhir di MAN 1 Jombang", star syndrome secara umum rentan dialami oleh remaja hingga dewasa awal dan juga diikuti dengan gangguan narsistik.
Contohnya, seorang karyawan yang baru saja naik jabatan atau memenangkan penghargaan di kantor tiba-tiba bersikap tinggi hati dan menolak mendengarkan rekan kerjanya, atau mahasiswa yang dipuji dosen lalu merasa paling pintar di kelompoknya.
Pada dasarnya, persoalannya bukan terletak pada seberapa terkenal seseorang, melainkan bagaimana ia memandang dirinya dan memperlakukan orang lain. Star syndrome terjadi ketika seseorang gagal mengelola ego saat menerima validasi atau pencapaian.
Karena itu, penting untuk tetap rendah hati, terbuka terhadap kritik, serta selalu menghargai orang lain, terlepas dari pencapaian maupun popularitas yang dimiliki. Pasalnya, mendapat perhatian bukan berarti seseorang lebih hebat daripada orang lain.
Terlebih lagi, popularitas dan pencapaian bukanlah suatu hal yang kekal, alias dapat hilang kapan saja, terutama di era yang penuh dengan persaingan ini. Sementara itu, rasa hormat terhadap sesama merupakan sebuah penilaian yang menentukan kualitas diri yang sesungguhnya. [rk]