
ThePhrase.id – TikTok kini menjadi media sosial dengan jumlah pengguna yang besar di seluruh dunia. Berbagai konten dapat diunggah ke platform ini, apa pun genre atau niche-nya. Salah satu topik konten yang umum dibagikan dan ditonton adalah soal hubungan romansa.
Berbagai pengguna memberikan opini, pandangan, hingga pengalamannya ke platform ini. Konten-konten yang mendapatkan penonton tinggi kemudian membuat bahasan di dalamnya menjadi viral dan menjadi bahan perbincangan.
Konten populer soal hubungan yang berisikan bagaimana seharusnya seseorang memperlakukan pasangannya, bagaimana seseorang menyelesaikan konflik dalam hubungan, bagaimana kencan seharusnya berlangsung, dan "aturan" lain dalam hubungan, disebut juga sebagai Standar TikTok.
Selain itu, konten yang berisikan hubungan yang manis dan tampak kurang realistis dari selebritas, influencer, atau pengguna populer lainnya juga menjadi "kiblat" atau Standar TikTok banyak pengguna dalam menjalankan hubungan.
Standar ini sering kali tak berpijak pada realitas kehidupan nyata, melainkan pada idealisme buatan yang diinginkan seseorang dari pasangannya. Sayangnya, masih banyak pengguna yang kurang bijak dalam menyaring konten dan menganggap apa yang disebut dalam video berdurasi 15-60 detik tersebut adalah benar adanya dan dipercaya begitu saja.
Saking masifnya konten soal Standar TikTok, hal ini menjadi fenomena tersendiri yang kemudian membuat resah banyak orang. Pasalnya, standar ini menggeser pandangan banyak orang terhadap pasangannya, hingga mengubah perlakuan pada pasangan.

Sebagai contoh, perempuan yang telah bersuami melihat sebuah konten Standar TikTok tentang bagaimana ia harusnya hidup dengan tenang tanpa harus melakukan apa pun karena laki-laki yang harus berusaha dan melakukan effort untuk keluarganya.
Ketika terpengaruh, mereka yang tadinya aktif mengurus rumah kini memilih untuk meninggalkan semua pekerjaan rumah karena konten TikTok mengatakan seharusnya suami dapat menyediakan Asisten Rumah Tangga (ART) agar istri tidak terbebani.
Kejadian seperti ini terdengar tidak masuk akal, tetapi nyata terjadi oleh banyak orang. Mereka yang melakukan hal ini terjebak dalam idealisme yang dianggap benar karena konten yang didukung oleh banyak orang. Namun, mereka tidak melihat realita kehidupan dan mempertimbangkan faktor lain seperti pendapatan suami sebelum membuat keputusan ekstrem.
Selain itu, beberapa Standar TikTok yang paling umum dan banyak menjadi "kiblat" adalah hubungan yang harus selalu romantis dan estetik, pasangan harus selalu ada 24/7, princess treatment dari pasangan adalah hal wajib, standar love language yang materialistis, definisi red flag yang berlebihan, dan masih banyak lagi.
Di sisi lain, pada dasarnya, konten-konten pengalaman orang lain di platform ini dapat menjadi insight baru terhadap berbagai hal, termasuk hubungan. Tetapi, pengguna dituntut untuk dapat bijak dalam memilah mana konten yang sekiranya positif, negatif, bisa dijadikan contoh, dan yang harus dihindari.
Sebab, kehidupan yang terlihat riil di media sosial sering kali tidak seperti aslinya di dunia nyata. Pengguna media sosial harus mengetahui bahwa apa pun yang dibagikan pengguna lain di akunnya hanyalah sebagian kecil dari kehidupan orang tersebut.

Pertama-tama, hal terpenting yang harus diperhatikan dalam hubungan adalah fokus pada hubungan sendiri tanpa membandingkan dan melihat hubungan orang lain. Pasalnya, setiap orang memiliki latar belakang, pengalaman hidup, dan nilai yang berbeda-beda yang berpengaruh terhadap bagaimana mereka menjalani hubungan.
Selanjutnya, batasi konsumsi konten yang tergolong negatif. Pintarlah untuk mem-filter mana konten yang positif dan bisa diambil pelajaran di baliknya atau dijadikan hiburan, dan mana konten yang seharusnya dihindari. Mengurangi penggunaan ponsel juga dapat membantu langkah ini.
Jika merasa ragu dengan pasangan karena terpapar Standar TikTok, lakukanlah komunikasi yang jujur dan terbuka dengan pasangan untuk menyampaikan apa yang kamu rasakan. Insight nyata dari pasangan yang kamu percaya dapat menjadi pegangan yang lebih stabil, daripada membiarkan media sosial menentukan arah hubunganmu.
Hubungan yang sehat tidaklah dibangun dari standar yang viral atau potongan video dari media sosial, melainkan dari komunikasi, pengertian, kompromi, dan kesepakatan dua orang yang menjalankan hubungan tersebut.
TikTok dan platform media sosial lain boleh menjadi sumber hiburan, inspirasi, dan informasi, tetapi keputusan dalam hubungan sebaiknya tetap berpijak pada realitas, kondisi, dan nilai yang diyakini bersama, karena tak semua Standar TikTok relevan dengan kehidupan nyata. [rk]