
ThePhrase.id – Belakangan ini, istilah vagueposting sering kali dijumpai di media sosial, baik X, Threads, TikTok, maupun Instagram. Kebiasaan digital yang makin sering ditemui ini merujuk pada unggahan bernada samar, ambigu, penuh kode, atau sengaja dibuat tanpa konteks jelas sehingga memancing rasa penasaran pengguna lain.
Sebagai contoh, seseorang mengunggah tweet atau unggahan seperti “Kadang orang terdekat justru paling mengecewakan,” atau “Ternyata ada alasan dia pergi ke tempat itu terus, yang pasti bikin kaget banget sih kalau sampai kesebar,” tanpa penjelasan lebih lanjut mengenai siapa atau situasi apa yang sedang dibahas.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Di era Facebook sekitar akhir 2000-an, istilah “vaguebooking” sudah lebih dulu populer untuk menggambarkan status samar yang membuat orang lain bertanya-tanya.
Kini, kebiasaan tersebut kembali ramai dilakukan di platform seperti X, Threads, TikTok, hingga Instagram, terutama oleh kalangan generasi muda yang tumbuh bersama budaya oversharing media sosial.
Beberapa media internasional menyebut vagueposting sebagai bentuk emotional clickbait karena unggahan ambigu seperti ini sering memancing komentar dan spekulasi dari pengguna lain.
Semakin banyak orang penasaran dan bertanya “kenapa?” atau “siapa?”, semakin tinggi pula engagement yang didapat sebuah unggahan. Hal ini membuat vagueposting dianggap menjadi sebuah jalan pintas untuk mendorong interaksi yang tinggi, sesuai dengan algoritma.
Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua orang melakukan vagueposting demi mencari perhatian. Ada juga yang menganggapnya sebagai cara aman untuk meluapkan emosi tanpa harus membeberkan masalah pribadi secara detail ke publik.
Di tengah tekanan media sosial yang sering menuntut orang menjelaskan segalanya, vagueposting justru dianggap memberi ruang untuk tetap bercerita tanpa benar-benar oversharing.
Meski begitu, tren ini juga menuai kritik. Banyak pengguna internet merasa vagueposting sengaja dibuat untuk memancing rasa penasaran atau bahkan rasa khawatir orang lain.
Tidak sedikit pula yang menganggap unggahan seperti ini melelahkan karena terkesan dramatis dan manipulatif. Di media sosial, istilah seperti “iykyk” (if you know, you know) atau “ytta” (yang tahu-tahu aja) bahkan sering dipakai untuk mempertegas kesan eksklusif dalam sebuah vaguepost.
Pada akhirnya, vagueposting hanyalah gambaran tentang cara generasi digital berkomunikasi. Di satu sisi, orang ingin didengar dan meluapkan emosi. Di sisi lain, mereka juga ingin menjaga privasi dan mengontrol seberapa banyak cerita yang diketahui publik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di era media sosial modern, unggahan yang terasa ambigu bisa menjadi sebuah bentuk komunikasi dan menjadi sebuah cara untuk meningkatkan interaksi demi jangkauan yang lebih luas. [rk]